Kabut Pagi Manisjangan, Desa Agraris di Purworejo yang Menjaga Rindu

Jingga News, Puworejo — Kampung Manisjangan Purworejo menyuguhkan potret desa agraris yang tenang saat kabut pagi menyelimuti permukiman warga di Desa Seren, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Selasa (6/1/2026).

Tim Jingga News menyusuri kampung ini untuk melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga kehidupan sederhana, nilai gotong royong, dan tradisi di tengah arus perubahan zaman. Melalui aktivitas pertanian dan kehidupan sosial yang masih kuat, Manisjangan menjadi gambaran desa yang bertahan dan terus dirindukan para perantau.

Purworejo | Jingga News

Kabut pagi masih menggantung rendah saat tim Jingga News melangkah menyusuri Kampung Manisjangan. Jalan setapak berumput basah oleh embun menghubungkan rumah-rumah warga yang berdiri berjauhan, diapit sawah dan pepohonan rindang. Udara dingin terasa bersih, menyusup hingga ke dada, menghadirkan suasana yang kian sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

Deru kendaraan nyaris tak terdengar. Suasana pagi di Manisjangan diisi oleh desir angin, langkah kaki warga, serta kicau burung yang memecah sunyi. Rumah-rumah joglo dan limasan berdiri tenang, seolah tak tergesa oleh waktu. Pemandangan ini menghadirkan kesan bahwa kehidupan di kampung berjalan dengan iramanya sendiri—pelan, jujur, dan bersahaja.

Kampung Agraris di Tengah Arus Perubahan

Kampung Manisjangan berada di wilayah selatan Pulau Jawa dan dikenal sebagai kampung dengan lahan pertanian yang subur. Sawah mengelilingi perkampungan seperti karpet hijau yang membentang luas. Dari kejauhan, hamparan hijau berpadu dengan kabut tipis, menciptakan lanskap alam yang menenangkan mata.

Warga menanam berbagai komoditas pertanian seperti cabai, singkong, talas, dan aneka sayuran di sawah maupun pekarangan rumah. Tanah yang subur menjadi anugerah yang dijaga turun-temurun. Bertani bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian dari identitas dan cara hidup masyarakat.

Tanah di sini sangat subur. Hampir semua yang ditanam bisa tumbuh dengan baik,” ujar Mbah Sabarudin, tokoh agama Kampung Manisjangan.

Menurutnya, hampir setiap rumah memiliki kebun kecil sebagai sumber pangan keluarga. Sayur dan buah dipetik sendiri, dimasak sendiri, dan kerap dibagikan kepada tetangga jika berlebih. Prinsip hidup bersahaja masih dijaga kuat oleh warga, meski perubahan zaman perlahan masuk ke kampung ini.

Arus urbanisasi menjadi tantangan tersendiri. Banyak warga usia produktif memilih merantau ke kota besar, terutama Jakarta, demi mencari penghidupan yang lebih layak. “Yang tinggal sekarang kebanyakan orang tua dan anak-anak. Yang muda banyak merantau,” kata Mbah Sabarudin.

Meski demikian, Manisjangan tidak kehilangan jiwanya. Sawah tetap digarap, kebun tetap dirawat, dan kehidupan sosial masih berjalan dengan ritme yang sama seperti dulu.

Surau dan Gotong Royong

Kehidupan religius menjadi bagian penting dari keseharian warga. Saat waktu salat tiba, suara azan menggema dari surau-surau kecil yang tersebar di kampung. Alunannya menyatu dengan alam, memantul di antara pepohonan dan persawahan, menghadirkan suasana khusyuk yang alami.

Warga datang ke surau dengan langkah pelan namun pasti. Tak ada hiruk-pikuk, tak ada kesan tergesa. Aktivitas keagamaan menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Nilai gotong royong juga masih terjaga. Warga terbiasa saling membantu, baik saat musim tanam, panen, maupun dalam kegiatan sosial lainnya. Keramahan menjadi ciri khas yang mudah ditemui. Para petani yang bekerja di sawah tak segan menyapa atau melambaikan tangan kepada siapa pun yang melintas.

Rindu yang Menjaga Desa

Bagi warga yang merantau, Kampung Manisjangan kerap menjadi tempat melepas rindu. Udara bersih, suasana sunyi, serta kedekatan sosial menjadi hal yang sulit ditemukan di kota. Desa ini menawarkan jeda—ruang untuk bernapas dari lelah yang menumpuk.

Suasana seperti ini yang biasanya dirindukan saat pulang kampung,” ujar Mbah Sabarudin.

Menjelang siang, kabut perlahan menghilang. Matahari naik, menyinari sawah dan rumah-rumah tua yang tetap berdiri kokoh. Manisjangan kembali pada rutinitasnya—sederhana, tenang, dan apa adanya.

Di Kampung Manisjangan, waktu seolah berjalan lebih pelan, memberi ruang bagi rindu untuk bernapas dan pulang. Di antara kabut pagi, surau kecil, dan sawah yang setia menunggu musim, desa ini mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar tempat kembali, melainkan perasaan yang tak pernah benar-benar pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *