Vitamin yang Berubah Jadi Racun: Ketika Kritik Dibayar Teror
Jingga News – Ada sebuah horor yang sedang merayap masuk ke ruang-ruang tamu keluarga di negeri ini. Ia tidak datang melalui layar televisi atau film fiksi, melainkan melalui ketukan pintu yang kasar, kiriman paket-paket busuk yang mengerikan, hingga pesan-pesan gelap di layar ponsel yang membuat seorang ibu tidak bisa memejamkan mata.
Inilah wajah asli dari apa yang kita sebut sebagai “kebebasan berpendapat” di tahun-tahun belakangan ini.
Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa—yang kebetulan memegang amanah sebagai Ketua BEM—mencoba melakukan tugas sucinya: berbicara. Ia menyuarakan kegelisahan soal program gizi nasional yang ia curigai ada aroma tak sedap di dalamnya. Ia menggunakan istilah “Maling Berkedok Gizi”.
Sebuah diksi yang memang keras, mungkin membakar telinga mereka yang terbiasa disuapi pujian.
Namun, di balik kekasaran kata itu, ada sebuah upaya tulus untuk menjaga agar uang rakyat tidak menguap begitu saja.
Sayangnya, respon yang ia terima jauh dari kata beradab.
Bukan undangan diskusi atau adu data di meja akademik, melainkan teror yang menyasar hingga ke jantung pertahanannya: orang tua.
Saat “Etika” Menjadi Tameng Intimidasi
Ketika kabar teror ini menyeruak ke permukaan, publik berharap ada sebuah perlindungan yang nyata.
Kita berharap negara hadir sebagai orang tua yang bijak, yang merangkul anaknya meski sang anak sedang marah.
Namun, kenyataan justru menampar kita semua. Tanggapan yang muncul dari lingkaran kekuasaan justru terasa seperti siraman cuka di atas luka yang menganga: “Makanya, kalau kritik pakai etika.”
Pernyataan ini bukan sekadar tanggapan biasa. Ini adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap logika demokrasi. Bagaimana mungkin sebuah tindakan kriminal—teror fisik dan psikis terhadap warga negara—justru dijawab dengan nasehat soal tata krama?
Sejak kapan etika berbicara menjadi syarat bagi seseorang untuk tidak diteror?
Logika ini sangat berbahaya karena seolah memberikan lampu hijau bagi para pelaku teror untuk terus bekerja, selama korbannya dianggap “tidak sopan”.
“Demokrasi kita sedang sakit jika setiap orang yang ingin meluruskan arah bangsa harus lebih dulu menyiapkan mental untuk diteror atau melihat keluarganya terancam.“
Budaya Teror yang Dipelihara
Fenomena kepala babi, bangkai binatang, hingga ancaman bom molotov terhadap mereka yang vokal bukan lagi hal baru.
Namun, yang membuat kita merinding adalah pola pembiarannya. Jarang sekali kita mendengar pelaku teror-teror “kreatif” ini tertangkap dan diadili. Ketidakmampuan—atau ketidakmauan—negara untuk mengusut tuntas para pelaku teror ini menciptakan sebuah iklim ketakutan yang sistematis atau chilling effect.
Tujuannya jelas: membuat siapa pun yang ingin bicara jujur menjadi berpikir seribu kali. Mereka menyerang titik terlemah manusia, yaitu keluarga.
Ketika seorang ibu mulai ketakutan setiap kali ada suara motor berhenti di depan rumahnya, saat itulah demokrasi kita sebenarnya sudah mati di tingkat yang paling mendasar.
Menagih Janji Perlindungan
Jika pemerintah terus-menerus berlindung di balik narasi “etika” setiap kali ada rakyatnya yang diteror, maka jangan salahkan jika publik merasa negara telah absen.
Demokrasi tidak membutuhkan kesantunan palsu yang menutupi kebusukan; demokrasi membutuhkan kejujuran, meski itu pahit.
Seorang pemimpin yang besar tidak akan pernah merasa kecil hanya karena kritik dari mahasiswanya. Seorang pemimpin yang kuat tidak akan membiarkan rakyatnya menghadapi premanisme sendirian.
Namun, jika kritik terus dibalas dengan cibiran di pidato kenegaraan, dan teror dibalas dengan nasehat moral, maka kita sedang menuju sebuah era kegelapan yang baru.
Hari ini, yang dipertaruhkan bukan hanya nasib seorang Ketua BEM atau satu program pemerintah. Yang sedang dipertaruhkan adalah keberanian anak-anak bangsa untuk peduli pada negaranya.
Jika harga dari sebuah kepedulian adalah keselamatan keluarga, maka jangan heran jika di masa depan, rakyat lebih memilih untuk diam dan membiarkan negara ini karam perlahan-lahan.
Kritik adalah vitamin, ya. Tapi jangan biarkan botol vitamin itu berubah menjadi peti mati bagi mereka yang cukup berani untuk memberikannya.
Sudah saatnya negara berhenti beretorika soal etika, dan mulai bekerja melindungi nyawa mereka yang masih mencintai negeri ini dengan caranya yang keras.

